Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2015

Situs Biting, Benteng Terbesar di Era Majapahit


SALAH satu peninggalan Kerajaan Lamajang Tigang Juru adalah Situs Biting. Situs tersebut berbentuk sebuah benteng yang mengelilingi kerajaan yang dipimpin oleh Aria Wiraraja.

Situs Biting ini berada di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Situs ini mengelilingi pusat kota Kerajaaan Lamajang Tigang Juru. 

Beberapa areal Situs Biting saat ini berdiri di lahan milik warga dan Perhutani. Bahkan, ketika menggali tempat yang diduga mejadi pintu utama Benteng berada di perumahan milik warga. Situs kuno Kerajaan Lumajang ini terancam rusak. Karena beberapa lahan digunakan oleh pengembang sebagai perumahan. Jarak antara bangunan perumahan dengan situs kerajaan bersejarah ini hanya 40 meter

Di Benteng Biting ini terdapat lima Pangungakan atau yang bisa disebut sebagai tempat untuk mengintai musuh di luar benteng. Pangungakan ini berada di Gerbang Utama, dinding benteng sebelah Barat dan Timur kemudian Utara dan Selatan.

Kawasan Situs Biting adalah sebuah kawasan ibu kota kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin Prabu Arya Wiraraja yang dikelilingi oleh benteng pertahanan dengan tebal 6 meter, tinggi 10 meter dan panjang 10 km. Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektar yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.

Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon dan dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan "Ketonon" atau terbakar. Nama Biting sendiri merujuk pada kosa kata Madura bernama "Benteng" karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kokoh.


Kaitan Kerajaan Lamajang Tigang Juru dan Kerajaan Majapahit



Dalam sejarahnya, prasasti Kudadu menyebutkan bahwa ketika Raden Wijaya melarikan diri bersama 12 pengawal setianya ke Madura, maka Adipati Arya Wiraraja yang saat itu menjabat sebagai adipati di Madura memberikan bantuan kepada Raden Wijaya guna merebut kembali haknya yang saat itu tengah digenggam Raja Jayakatwang asal Kerajaan Kediri yang belum lama memberontak dan menewaskan mertua Raden Wijaya yaitu Raja Kertanegara yang memimpin Kerajaan Singosari.


Pada kesepakatan itu termuan adanya pembagian kekuasaan bila Raden Wijaya berhasil merebut kebali kekuasaan sebagai Raja. Dalam kesepakatan dituangkan bahwa "pembagian tanah Jawa menjadi dua" yang sama besar yang kemudian di sebut "Perjanjian Sumenep".

Setelah itu Adipati Arya wiraraja memberi bantuan besar-besar kepada Raden Wijaya termasuk mengusahakan pengampunan politik terhadap Prabu Jayakatwang di Kediri dan pembukaan "hutan Terik' menjadi sebuah desa bernama Majapahit. Dalam pembukaan desa Majapahit ini sungguh besar jasa Adipati Arya Wiraraja dan pasukan Madura. Raden Wijaya sendiri datang di desa Majapahit setelah padi-padi sudah menguning.
Kira-kira 10 bulan setelah pendirian desa Majapahit ini, kemudian datanglah pasukan besar Mongol Tar Tar pimpinan Jendral Shih Pi yang mendarat di pelabuhan Tuban. Adipati Arya Wiraraja kemudian menasehati Raden Wijaya untuk mengirim utusan dan bekerja sama dengan pasukan besar ini dan menawarkan bantuan dengan iming-iming harta rampasan perang dan putri-putri Jawa yang cantik. Setelah dicapai kesepakatan maka diseranglah Prabu Jayakatwang di Kediri yang kemudian dapat ditaklukkan dalam waktu yang kurang dari sebulan. Setelah kekalahan Kediri, Jendral Shih Pi meminta janji putri-putri Jawa tersebut dan kemudian sekali lagi dengan kecerdikan Adipati Arya Wiraraja utusan Mongol dibawah pimpinan Jendral Kau Tsing menjemput para putri tersebut di desa Majapahit tanpa membawa senjata.

Hal ini dikarenakan permintaan Arya Wiraraja dan Raden Wijaya untuk para penjemput putri Jawa tersebut untuk meletakkan senjata dikarenakan permohonan para putri yang dijanjikan yang masih trauma dengan senjata dan peperangan yang sering kali terjadi. Setelah pasukan Mongol Tar Tar masuk desa Majapahit tanpa senjata, tiba-tiba gerbang desa ditutup dan pasukan Ronggolawe maupun Mpu Lembu Sora bertugas membantainya. Hal ini diikuti oleh pengusiran pasukan Mongol Tar Tar baik di pelabuhan Ujung Galuh (Surabya) maupun di Kediri oleh pasukan Madura dan laskar Majapahit. Dalam catatan sejarah, kekalahan pasukan Mongol Tar Tar ini merupakan kekalahan yang paling memalukan karena pasukan besar ini harus lari tercerai berai.


Setahun setelah pengusiran pasukan Mongol Tar Tar, menurut Kidung Harsawijaya, sesuai dengan "Perjanjian Sumenep" tepatnya pada 10 Nopember 1293 Masehi, Raden Wijaya diangkat menjadi Raja Majapahit yang wilayahnya meliputi wilayah-wilaah Malang (bekas kerajaan Singosari), Pasuruan, dan wilayah-wilayah di bagian barat sedangkan di wilayah timur berdiri kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja yang kemudian dalam dongeng rakyat Lumajang disebut sebagai Prabu Menak Koncar I.

Kerajaan Lamajang Tigang Juru ini sendiri menguasai wilayah seperti Madura, Lamajang, Patukangan atau Panarukan dan Blambangan. Dari pembagian bekas kerajaan Singosari ini kemudian kita mengenal adanya 2 budaya yang berbeda di Provinsi Jawa Timur, dimana bekas kerajaan Majapahit dikenal mempunyai budaya Mataraman, sedang bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru dikenal dengan "budaya Pendalungan (campuran Jawa dan Madura)" yang berada di kawasan Tapal Kuda sekarang ini. Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja)ini berkuasa dari tahun 1293- 1316 Masehi.

Sepeninggal Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja), salah seorang penerusnya yaitu Mpu Nambi diserang oleh Majapahit yang menyebabkan Lamajang Tigang Juru jatuh dan gugurnya Mpu Nambi yang juga merupakan Patih di Majapahit. Babad Pararaton menceritakan kejatuhan Lamajang pada tahun saka "Naganahut-wulan" (Naga mengigit bulan) dan dalam Babad Negara Kertagama disebutkan tahun "Muktigunapaksarupa" yang keduanya menujukkan angka tahun 1238 Saka atau 1316 Masehi.

Jatuhnya Lamajang ini kemudian membuat kota-kota pelabuhannya seperti Sadeng dan Patukangan melakukan perlawanan yang kemudian dikenal sebagai "Pasadeng" atau perang sadeng dan ketha pada Tahun 1331 Masehi.

*Diolah dari berbagai sumber



Senin, 21 September 2015

Romantisme Ranu Kumbolo

Terletak di ketinggian ±2.400 Mdpl, Lumajang Jawa Timur, danau seluas 12 hektare ini dinobatkan sebagai danau kedua tercantik di Indonesia setelah Danau Toba di Sumatera Utara. Danau ini seolah menjadi oase pendaki setelah menempuh perjalanan panjang. Di sinilah tempat pertama para pendaki mendirikan tenda untuk istirahat besar.
Menikmati pemandangan matahari terbenam di danau yang terlihat biru dari ketinggian itu menjadi obat lelah yang begitu manjur. Jika di mendaki pada masa bulan purnama, bonus pemandangan indah pada malam hari sangat sayang untuk dilewatkan. Namun perlu diingat, resort Ranu Kumbolo merupakan jalur angin sehingga pada saat bulan purnama, suhu di Ranu Kumbolo bisa turun hingga -4 derajat selsius.
Di pagi hari, kita akan dibangunkan dengan hangatnya mentari, lagi-lagi pemandangan sunrise yang sangat sayang dilewatkan di danau ini. Sembari mengisi perbekalan air dan mempersiapkan santap pagi sebelum melanjutkan perjalanan, Ranu Kumbolo tak henti memeluk mesrah setiap pengujung yang mengambil airnya. Tak heran, banyak pendaki yang menyebut Ranu Kumbolo sebagai surganya Gunung Semeru. Romantismenya selalu membawa pendaki tak puas hanya sekali mengunjunginya.
Ranu Kumbolo yang ada di ketinggian 2.400 meter dpl ini punya debit air yang cukup stabil sehingga bisa dinikmati sepanjang tahun. Sebagai sumber air tawar yang sangat dibutuhkan pendaki, beberapa larangan pun harus dipatuhi travelers, seperti tidak boleh mandi, buang sampah sembarangan, mencuci peralatan makan dengan detergen, berenang, buang air kecil dan buang air besar di danau agar kebersihannya selalu terjaga.

Apa konsekuensi kalau kamu melarang aturan keras di Ranu Kumbolo ini? Ada ranger yang siap memberikan kamu ganjaran, ataupun pendaki pendaki lain yang siap menghukummu. Hukumannya bermacam-macam. Contohnya, kamu bisa memilih antara berendam selama 2 jam di air sedingin es di Ranu Kumbolo, atau memunguti sampah – sampah yang bertebaran di sana. Nah, oleh karena itu, sebaiknya kamu tidak melanggar peraturan di sini, travelers. Karena peraturan dibuat untuk kebaikan bersama dan menjaga agar Ranu Kumbolo senantiasa terjaga kebersihannya.

Di area ini juga terdapat juga Prasasti Kumbolo yang konon menjadi peninggalan Kerajaan Kediri serta arca (arcopodo) yang konon menjadi peninggalan masa Kerajaan Majapahit sehingga umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun. Bisa dibayangkan ya kalau dulu orang-orang Majapahit juga suka berkelana hingga ke kawasan danau ini.

Tips mendaki Ranu Kumbolo

Sebelum melakukan pendakian ke Ranu Kumbolo, ada baiknya kamu mempersiapkan fisik yang prima terlebih dahulu dengan melakukan olahraga rutin seperti jalan cepat ataupun berlari selama 60 menit setiap hari. Karena pendakian selama 4-6 jam dapat membuat kakimu ‘kaget’ dan ini dapat menyebabkan kram ataupun gangguan otot lainnya. Belum lagi, kamu harus membawa beban perbekalan di punggung, menuntutmu untuk punya kesiapan fisik yang ekstra.

Di Ranu Pane, kamu juga akan diminta bukti kesiapan fisik berupa surat keterangan sehat dari dokter, jadi sebaiknya siapkan sebelum mendaki, ya. Nggak lucu, kan kalo kamu udah siap dengan peralatan lengkap dan tiba di Ranu Pane, namun ditolak oleh petugas karena kamu tak memiliki surat keterangan sehat tersebut. Siapkan juga fotokopi KTP atau identitas lain yang berlaku, karena ini akan diminta oleh petugas pendaftaran di Pos Ranu Pane.

Tak perlu membawa pakaian terlalu banyak saat mendaki Ranu Kumbolo, yang terpenting adalah pakaian tersebut dapat melindungimu dari udara dingin, karena suhu di Ranu Kumbolo, terutama saat malam hari dapat mencapai hanya beberapa derajat celcius yang dapat membuatmu beku.

Perbekalan juga tak perlu membawa terlalu banyak, cukup bawa bekal makanan secukupnya, dan snack cokelat ataupun snack berenergi lain dan air putih yang cukup untuk dikonsumsi selama kamu dalam perjalanan mendaki. Membawa daging ataupun ikan yang telah dibumbui juga ide yang bagus, sehingga di Ranu Kumbolo nanti kamu hanya perlu untuk memanggang/membakarnya saja setelah mendirikan tenda. Wah, makan daging/ikan bakar di tengah udara dingin Ranu Kumbolo? Kedengerannya aja udah lezat ya!

Salah satu lagi yang terpenting adalah, siapkan kantong untuk menampung sampah-sampahmu, travelers. Dan jangan lupa untuk dibawa lagi saat kamu turun ke Ranu Pane, karena di sana disediakan tempat pembuangan sampah khusus. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab dengan tidak merusak, dan ikut menjaga kebersihan.

Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.

Rabu, 16 September 2015

Goa Tetes, Tetesan Yang Tak Pernah Kering



Goa tetes kini sudah ditetapkan menjadi salah satu obyek wisata andalan Lumajang. Terletak di Desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo sekitar 55 km ke arah selatan jurusan Malang. Untuk sampai disana pengunjung bisa menggunakan transportasi darat, dengan angkutan bus atau MPU.



Meskipun musim kemarau panjang, dalam goa ini keajaiban tetesan airnya masih saja terjadi, selain itu keunikan lainnya adalah banyak orang meyakini bahwa Goa Tetes menyimpan misteri. Pasangan suami istri yang datang kesana, ketika bermasalah bisa rujuk kembali. Keunikan ini bisa saja terjadi karena orang akan di ajak untuk menyadari makna-makna di balik keajaiban Tuhan atas goa yang berbentuk bebatuan warna warni berupa stalagmite.




Untuk sampai ke Goa Tetes tidaklah mudah, harus berjalan kaki melewati medan yang cukup berat dengan kemiringan jurangnya yang sangat tajam. Tapi sekarang medan itu dapat ditempuh dengan cepat setelah dibangun tangga-tangga permanen yang sangat aman bagi mereka yang menuruni tebing Goa Tetes.


Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.

Jumat, 11 September 2015

Hutan Bambu, Istana Kalong dan Kera

Jawa Timur memiliki objek wisata yang sangat menarik dan beraneka ragam, temasuk juga Wisata Hutan Bambu di Lumajang . Pilihan wisata yang menawakan pemandangan ini menarik untuk dikunjungi karena pengunjung bisa menikmati suasana asri nan sejuk.
Pintu Masuk Hutan Bambu
Obyek Wisata Hutan Bambu berletak di sebuah desa yang berada di lereng Gunung Semeru, yaitu Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, kab. Lumajang , Kawasan hutan bambu yang memiliki luas sekitar 14 hektare ini berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Lumajang dapat di tempuh dengan kendaraan pribadi baik roda 2 maupun roda 4.

Hutan Bambu Sumbermujur ini terlihat elok dan sama sekali tidak ada kesan angker seperti jika anda mendengarnya. Areal sekitarnya terasa sejuk sepanjang hari. Selama di dalam Pengunjung dijamin tidak akan terkena sengatan sinar matahari, meski datang siang hari bolong yang panas. Sorotan matahari bisa diredam oleh daun – daun bambu yang rimbun. Memasuki hutan bambu ini bak menyeruak sebuah terowongan raksasa.
Hutan Bambu
Sepanjang hutan bambu, anda dapat melihat ratusan kera – kera jinak. Wisatawan pun bisa berinteraksi seperti memberikan makanan. Tak hanya itu, para pengunjung juga bisa melihat ribuan ekor kalong atau kelelawar yang bergelantungan di pohon-pohon bambu dan pohon sekitarnya. Hal ini juga bisa menjadi media pendidikan terhadap anak anda.

Lingkungan setempat yang masih alami ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, khususnya bagi mereka warga kota yang mengidamkan sebuah lingkungan yang natural tanpa polusi. Untuk memasuki obyek Wisata Hutan Bambu ini, pengunjung tidak dipungut tiket masuk alias gratis. Namun untuk biaya konservasi hutan bambu ini, pihak Desa sumbermujur hanya menarik iuran dari pedagang yang berjualan di sekitar obyek wisata tersebut.
Sumber Air yang Terjaga
Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.

Senin, 07 September 2015

Alun-Alun Lumajang

Alun-alun lumajang merupakan jantung Kota, kerap kali digunakan acara keluarga, piknik, bersantai, upacara hari besar nasional. dan event hari jadi, serta ecent olahraga, semua di lakukan disini, tatanan dari alun-alun lumajng merupakan tatanan yang sesuai dengan aturan dari jaman pemerintahan belanda, yaitu jika kita berdiri di tengah alun-alun maka di belakang kita terdapat kantor bupati lumajang, menandakan kita didukung oleh masyarakat lumajang secara keseluruhan dari belakang. dan disebelah kiri kita ada Lembaga Pemasyarakatan sedangkan disebelah kanan terdapat Masjid Agung Anas Mahfudz, hal ini merupakan peneimbang sekaligus pananda mana yang baik, mana yang buruk. dan jika kita menhdapa ke depan terdapat Pendopo atau tempat tinggal, dimana alun-alun sebagai halamannya.

Masjid Agung Anas Mahfudz

Pohon Bringin di tengah Alun-alun

Kantor Bupati di sebelah utara alun-alun

Pendopo di sebelah selatan alun-alun
alun-alun lumajang dari atas
Di tepi Alun-alun Lumajang sebelah utara terdapat bangunan mirip candi, berlubang tembus, terdapat CANDRA SENGKALA yang berbunyi "TRUSING NGASTA MUKA PRAJA" (TRUS=9, NGASTA=2, MUKA=9, PRAJA=1). Bangunan ini merupakan tetenger atau penanda, ditujukan untuk mengenang peristiwa bersejarah, yaitu pada tahun 1929. Lumajang dinaikkan statusnya menjadi REGENTSCAH otonom per 1 Januari 1929 sesuai Statblat Nomor 319, 9 Agustus 1928. Regentnya RT KERTO ADIREJO, eks Patih Afdelling Lumajang (sebelumnya Lumajang masuk wilayah administratif Kepatihan dari Afdelling Regentstaschap atau Pemerintah Kabupaten Probolinggo).

Pura Mandara Giri Semeru Agung

Pura Mandara Giri Semeru Agung
Awalnya Pura Mandara Giri hanya berada diatas tanah pekarangan seluas 20 x 60 meter. Setelah 3 tahun kemudian, areal tanah berkembang menjadi dua hektar. Sehingga, bangunan pura yang semula nampak sederhana, kini, sudah berkembang megah. Menjaga senyawa bangunan, dan fungsinya, pura  ini tak pernah sepi dari aktifitas keagamaan. Bermula dari upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar yang digelar pada Minggu manis, Wuku Menail, 8 Maret 1992.

Akses menuju pura, jalannya sudah cukup baik. Bahkan, mampu mengakomodir rombongan puluhan Bus dari Bali yang datang untuk melakukan peribadatan.

Pura Mandhara Giri Semeru Agung Merupakan salah satu pura tertua di Nusantara. Letaknya bertopografi pegunungan dan berhawa sejuk yakni Senduro Kabupaten Lumajang yang diyakini dekat dengan nilai spiritual umat Hindu yakni sejarah gunung Semeru.
Pura Mandagiri Semeru Agung, kini juga ditetapkan sebagai obyek Wisata Ritual (Keagamaan) yang dilakukan oleh Umat Hindu, terutama masyarakat Bali yang datang melakukan peribadatan,Pura ini Berada di Kecamatan Senduro, letaknya sekitar 25 Km ke arah barat dari Kota Lumajang.
Untuk sampai ke lokasi Pura yang biasanya dijuluki Pura Kahyangan Jagat (tempat memuja Hyang Widhi Wasa), dapat dijangkau dengan mudah, karena akses jalannya sudah cukup baik. Bahkan, mampu mengakomodir rombongan puluhan Bus dari Bali yang datang untuk melakukan peribadatan.
Untuk di areal ruangan tersebut pengunjung diijinkan masuk dengan memberitahu dan meminta izin terlebih dahulu kepada petugas. Sedangkan untuk Pura Utama, bagi pengunjung yang bukan umat Hindu dan tidak ada keperluan untuk beribadah, pengunjung dilarang untuk memasukinya
Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.




Gaya, struktur dan komponen-komponen arsitekturnya mengikuti gaya arsitektur pura-pura di Bali, yaitu arsitektur tradisional Bali yang masih mengikuti gaya arsitektur zaman kerajaan Majapahit. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dengan dasar-dasar filsafat dalam ajaran agama Hindu. Di kawasan Pura ini banyak terdapat bangunan pendukung Di antaranya adalah ruangan semacam pendapa atau aula, Bale Gajah itu terdapat ornament beberapa patung gajah, CandiBentar (apit surang), dan candi kurung (gelungkuri). Ada juga, suci sebagai dapur khusus dan bale patandingan.








Sabtu, 05 September 2015

Air Terjun Kapas Biru

Air Terjun Kapas Biru terletak di daerah pronojiwo kabupaten Lumajang, kurang lebih 1 km setelah pasar pronojiwo terdapat banner air terjun kapas biru. Air terjun ini memilki rona warna kebiruan pada setiap sisi air terjunnya dan pastinya tempatnya sangat indah, dan untuk menuju lokasi tersebut hanya membayar parkir 5000 dan tiket masuk 3000. jarak tempat parkir menuju lokasi air terjun kurang lebih 2 km dengan turunan yang cukup curam yaitu 40-45 derajat dan melewati tangga yang hampir 90 derajat. Tapi jangan khawatir, karena sudah dibangun pagar dan tangga, jalannya juga cukup mudah. Air terjun kapas biru konon katanya dapat menyembuhkan penyakit, air terjun ini masih belum resmi ditetapkan oleh PEMKAB Lumajang. Sarana dan prasarana untuk menuju lokasipun masih swadaya masyarakat sekitar, bijak ya saat berkunjung, Bawa sampahmu kembali!.

Jumat, 04 September 2015

Pemandian Alam Selokambang


Pemandian Selokambang. Pemandian yang berada di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersuko, letaknya sekitar 7 meter kearah barat kota Lumajang, untuk jarak tempuhnya sekitar 15 menit saja. Dengan kondisi jalan yang cukup mulus membuat kendaraan apa saja dapat melintas, ditambah lagi dengan pemandangan alam yang ada disekitar Pemandian Selokambang yang begitu rimbun dan jugacantik .

Tak hanya pemandangan saja yang terlihat cantik dipemandian Selokambang, namun airnya juga sangat jernih dan juga segar membuat siapa saja akan betah mandi disana. Air dipemandian ini tidak hanya dibuat pariwisata saja, namun juga dialirkan kesungai dan dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah warga. Sehingga tidak membuat kita heran jika disekitar pemandian terdapat pemandangan sawah yang hijau.

Aktivitas yang dapat dilakukan selain olah raga renang, juga dapat menikmati sarana permainan anak, berperahu, sepeda air, olah raga tennis.

Berbagai macam kedai yang menjanjikan makanan tradisional siap untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga disamping itu ditunjang areal parkir yang cukup luas dan representatif


Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.
we are @cacakyukLMJ
 
Copyright © 2014 Cacak & Yuk Lumajang