Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Pesona Budaya Suku Tengger di Lumajang

Suku Tengger adalah suku yang bermukim di sekitar Gunung Bromo, dimana Gunung Brahma (Bromo) ini milik 4 kabupaten. Selain di Bromo, suku ini juga tersebar di Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Suku Tengger merupakan sub suku jawa. Orang- orang Tengger yang diyakini sebagai keturunan asli Majapahit ini mayoritas menganut agama Hindu. namun saat ini sudah banyak yang menganut Islam. Menurut wawancara yang dilakukan dengan penduduk setempat, jumlah perbandingan antara penganut Hindu dengan Islam kira-kira 50:50. Meskipun ada perbedaan agama antara Suku Tengger, tetapi mereka bisa hidup berdampingan saling menghormati satu sama lain. Bahkan mereka dengan rukun menjalankan adat istiadat suku secara bersama-sama.

Kata “Tengger” berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Bahasa yang digunakan oleh Suku Tengger di Desa Argosari adalah bahasa Jawa. Bahasa yang digunakan tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa Suku Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Penggunaan bahasa suku ini hampir sama dengan bahasa Jawa pada umumnya, hanya saja huruf "o" dibaca dengan huruf "a". Misalnya kata "niko" (itu) diucapkan dengan kata "nika", "monggo" (silahkan) diucapkan dengan kata "mangga", begitupun juga dengan kata lainnya.. Mata pencaharian mereka antara lain petani sayur kembang kol, bawang prei, dan kentang.

Dalam kehidupan sehari-hari, suku Tengger hidup berselaras dengan alam. Mereka tetap menjaga kesakralan Gunung Bromo dengan tidak merusak lingkungan, bersikap baik, dan memegang teguh adat istiadat. Orang Tengger meyakini bahwa alam akan mendatangkan bencana jika kehidupan selaras ini tidak lagi berjalan. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat di sekitar Gunung Bromo dapat hidup rukun dengan penduduk lain yang memiliki keyakinan berbeda. 

Ciri Khas masyarakat Suku Tengger dapat dilihat dari cara berpakaiannya. Cara berpakaian masyarakat Tengger sama dengan masyarakat pada umumnya. Namun ada ciri khusus yaitu Masyarakat Tengger selalu memakai sarung yang dipakai dipundak ke manapun mereka pergi. Cara berpakaian mereka yang seperti ini menjadikan suku ini mudah dikenali dimanapun mereka berada. “Tiang Tengger” atau Orang Tengger telah mengenal sarung sejak turun temurun. Berikut ini adalah 7 cara memakai sarung ala penduduk Tengger:
  1. Kekaweng: Sarung dilipat dua kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat menjadi satu.Cara bersarung seperti ini digunakan untuk kegiatan sehari-hari yang membutuhkan keleluasaan bergerak seperti ke pasar dan mengambil air. Jika bertamu atau melayat tidak diperkenankan bersarung kekaweng.
  2. Sesembong: Dipakai dengan cara dilingkarkan ke pinggang kemudian diikat di antara dada dan perut agar tidak mudah lepas. Biasa digunakan ketika melakukan pekerjaan yang lebih berat seperti berladang.
  3. Sempetan (atau sempretan dalam bahasa Jawa): Sarung dikenakan seperti biasa dan dilipat di bagian pinggang. Digunakan untuk menunjukkan soan santun ketika sedang bertamu.
  4. Kekemul: Ketika sedang bersantai atau sekedar berjalan-jalan, sarung dipakai di badan. Bagian atas dilipat untuk memutupi kedua tangan dan digantungkan di bahu.
  5. Sengkletan: Ketika bepergian dan ingin terlihat rapi, sarung disampirkan di bahu secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada.
  6. Kekodong: Jika sedang berkumpul di upacara adat atau keramaian lain di malam hari, sarung dikerudungkan sampai menutup seluruh bagian kepala dan diikat di bagian belakang kepala sehingga yang terlihat hanya mata saja.7. 
  7. Sampiran: Anak-anak muda Tengger juga punya cara bersarung lho! Kain disampirkan di bagian atas punggung, kemudian kedua lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan dengan kedua tangan.(Sumber: KIM Sinar Harapan)
Warga Tengger bersarung yang dapat dengan mudah ditemukan di sekitar Argosari. Desa Argosari Kabupaten Lumajang memiliki pemandangan alam dan suasana yang khas. Oleh karenanya sangat cocok sebagai tempat piknik. Selain itu, Desa Argosari Kabupaten Lumajang juga sangat cocok untuk dijadikan wisata budaya 

Sabtu, 05 September 2015

Upacara Adat Kasada, Suku Tengger

Kabupaten Lumajang dihuni oleh banyak suku yang saling berdampingan dan hidup harmonis, dua suku mayoritas yakni suku Jawa yang banyak tersebar di Lumajang bagian selatan dan suku Madura yang banyak tersebar di Lumajang bagian utara. Percampuran Etnis inilah yang membuat Kabupaten Lumajang ber-etnis Pendalungan. Tapi janganlah lupa bahwa Kabupaten Lumajang juga memiliki suku asli yang tinggal di Lumajang bagian barat tepatnya daerah Senduro yakni suku Tengger dengan adat istiadat yang kental dan bernuansa Hindu. Salah satunya adalah pelaksanaan Upacara adat yang masih lestari hingga kini.
Bagi masyarakat Suku Tengger, Upacara adat adalah salah satu wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada tuhan. Ada banyak upacara adat di masyarakat Tengger yang memiliki tujuan bermacam-macam diantaranya meminta berkah, menjauhkan malapetaka, wujud syukur atas karunia yang diberikan tuhan kepada masyarakat Tengger. Salah satunya adalah upacara adat Kasada.
Makna kata Kasodo sendiri dari kata “kasada”, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger berharap panen yang berlimpah, meminta tolak bala, atau kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya menuruni tebing kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.
Upacara ini bertempat di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo Utara dan dilanjutkan ke Puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (bulan kesepuluh) menurut penanggalan Jawa, sekitar bulan Desember/Januari menurut penanggalan Masehi.
Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger yang mendiami wilayah Jawa Timur.
Dalam upacara Kasada masyarakat Tengger terdapat beberapa tahapan upacara yang harus dilaksanakan agar upacara Kasada berlangsung dengan khidmat yaitu Puja purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri sandiya, Muspa, Pembagian bija, Diksa widhi, Penyerahan sesaji di kawah Bromo. Proses berjalannya upacara Kasada dimulai pada Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja dimana seluruh masyarakat Tengger menuju Gunung Bromo untuk menyampaikan korban.
Untuk memudahkan mendapatkan informasi, Dinas Kebudayaann Pariwisata Telah membuat Pusat Informasi Pariwisata Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Lumajang Telp. 0334-891418 e-mail: pariwisata_lmj@yahoo.com para wisatawan juga dapat melihat dan mengetahui jenis-jenis paket wisata yang ada di Kabupaten Lumajang.
 
Copyright © 2014 Cacak & Yuk Lumajang