Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2015

Kamu Harus Tau: Filosofi Tari Topeng Kaliwungu

Tari Topeng Kaliwungu khas Lumajang, keberadaannya jarang diketahui oleh masyarakat Lumajang. Jangankan untuk penampilannya sebagai tari topeng khas Lumajang, nama tari topeng khas Kaliwungu yang merupakan tarian asli dari Lumajang pun tidak banyak di ketahui oleh masyarakat Lumajang pada umumnya.

Tarian Topeng Kaliwungu yang muncul puluhan tahun yang lalu merupakan adopsi dari tari Topeng Getak Madura. Walaupun di adopsi dari tari khas Madura, Alm. Senemo sang Maestro tari topeng Kaliwungu mengkreasikan dengan kebudayaan local Lumajang. 
Gerakan Tarian ini menggambaran perpindahan Arya Wiraraja raja Lumajang dari Sumenep ke Lamajang, Gerakan yang tegas khas madura kemudian juga ada gerakan-gerakan yang lembut khas jawa dengan diiringi music kenong telok . Di Desa Kaliwungu Kecamatan Tempeh inilah yang nota bene sebagian besar tinggal suku Madura, seni Tari Topeng Khas Kaliwungu masih dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini.
Mbah Nemo semasa masih hidup menceritakan filosofi dari tari Topeng Kaliwungu ini," Sejahat-jahatnya manusia pasti dia punya sisi kelembutan dan kebaikan”, itu merupakan nilai filosofi yang ada pada Tari Topeng Kaliwungu .
Ini Lumajang punya, Kenali, cintai dan mari kita pertahankan dan kita lestarikan, Jika bukan kita siapa lagi. Salam.

Jumat, 11 September 2015

Jaran Slining, Kolaborasi Unik Kuda dengan Pawangnya

Etnis di Kabupaten Lumajang dikenal dengan nama “Pendalungan”.Etnis ini lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Madura yang menghasilkan corak budaya khas Lumajang dengan unsur budaya Jawa dan Madura yang masih melekat di dalamnya. Dalam budaya pendalungan muncul etnik budaya yang didominasi oleh alat musik danglung yaitu sebuah kentongan dari kayu nangka. Pendalungan juga melahirkan lima seni tari khas yang tetap lestari di tengah hiruk pikuk modernisasi masyarakat, yaitu Jaran Kencak, Godril Lumajangan, Jaran Slining, Gelipang Rodat, dan Topeng Kaliwungu. Selain terkenal dengan Kota Pisang, Lumajang juga terkenal dengan kesenian Jarannya. Jaran atau kuda ini menjadi ikon Kabupaten Lumajang pada saat peringatan Harjalu (Hari Jadi Lumajang) ataupun kegiatan kesenian lainnya. Salah satu kesenian yang unik dan menarik dari Kota Pisang ini adalah Jaran Slining. Seni tari dengan ritme musik yang cepat ini seringkali menjadi hiburan pada acara hajatan di berbagai kalangan masyarakat.
Jaran Slining dan pawang
Jaran Slining Lumajang
Aset Lumajang yang merupakan turunan dari Jaran Kencak ini memiliki irama rancak tanpa gerakan pakem. Lahir dari masyarakat bawah, Jaran Slining menjadi hiburan yang digemari masyarakat pada masa itu. Para petani menggunakan anyaman dari bambu untuk membuat jaran atau kuda. Satu orang menunggangi kuda dan satu orang pengencak dengan membawa pecut atau sapu lidi adalah sepasang penari dalam Jaran Slining. Keduanya menari mengikuti irama musik seronen. Musik yang terdiri dari alat musik gong, gendang dan danglung ini mengalun mengiringi sepasang penari yang mengembangkan gerak tari secara bebas atau sesuai kreativitasnya. Gerakan dalam tarian ini merupakan apresiasi dari manusia yang menunggangi kuda karena dahulu kuda menjadi alat transportasi utama dan menunggang kuda adalah olahraga yang digemari masyarakat. 
Jaran Slining On The Stage

Describe Jaran Slining In One Word.............
Pengencak menggunakan topi (kopyah) yang agak tinggi, namun seiring berkembangnya kreativitas seni, kopyah pada pengencak diganti dengan aksesoris kepala berbentuk setengah lingkaran dengan warna yang beragam atau aksesoris lainnya yang menambah kesan ceria pada pengencak. Jaran Slining menjadi semakin semarak dan menarik dengan pakaian para penari yang didominasi oleh warna merah, hijau, kuning, dan warna-warna mencolok lainnya. Warna-warna ini sesuai dengan budaya masyarakat Madura yang cenderung pada warna mencolok. Melambangkan keberanian, kelembutan, dan keceriaan warna pakaian dalam Jaran Slining dipilih karena sesuai dengan tujuan tarian ini. Dibalut berbagai aksesoris baik pada jaran atau penunggang, Jaran Slining menjadi hiburan yang menyenangkan. Kesenian yang dahulu hanya menghibur masyarakat petani kemudian berkembang dan lestari di tengah lapisan masyarakat Lumajang.



Jumat, 04 September 2015

Jaran Kencak Ikon Lumajang

Lumajang harus bangga, karena kesenian Jaran Kencak ini masih ada. Bahkan, di beberapa desa, seperti Klakah, Ranuyoso, Kalipepe, Kedungrejo, Yosowilangun dan sejumlah desa lainnya, Jaran Kencak menjadi pertunjukkan yang masih diminati masyarakat. kesenian yang menggunakan Kuda sebagai hiburan.
Untuk bisa tampil atraktrif, kuda – kuda kencak ini dilatih khusus untuk melakukan gerakan tarian, berputar – putar sambil mengangkat kedua kakinya. Tinggal menunggu perintah saja, jaran – jaran ini sudah berkencak – kencak.
 
Copyright © 2014 Cacak & Yuk Lumajang